Kita sebut apa?

Pernah menulis atau setuju dengan kata-kata ini dibawah ini?

Terima kasih pernah datang, lalu menghilang
Terima kasih pernah ada, lalu tiada
Terima kasih pernah menghibur, lalu kabur
Terima kasih pernah meninggi harap, lalu menjatuhkan
Terima kasih pernah mendekat, lalu menjauh
Terima kasih pernah peduli, lalu acuh
Terima kasih

Jujur itu kalimat yang dalem banget.
Memang enggak bisa dipungkiri, pasti sedih banget rasanya, pastinya juga kecewa, dan sakit hati juga.
Terus kalau sudah terjadi apakah kita berhak menyalahkannya?
Tapi ternyata tidak,
Kenapa?
Karena yang salah adalah diri kita sendiri. 

kalau kata Tere liye :

Sebenarnya siapa yang membuat kita kecewa? 

Kita sendiri

Kita tidak akan pernah kecewa jika kita selalu mengendalikan harapan.
Mau secanggih apapun orang lain memupuk pesonanya, menimbun perhatiaannya,
kalau kita sempurna mengendalikan hati, no problem at all.

Sebut saja kalimat pertama yang banyak kata terima kasihnya itu adalah dampak dari php( Pemberi Harapan Palsu). Istilah ini sangat populer di Indonesia, tapi temanku yang di Malaysia ternyata enggak tahu. 
Dan sebut saja kalimat kedua dari tere liye itu berisi tentang bagaimana menghindari php, yaitu dengan "mengendalikan hati" atau kalau dalam kamusku "menjaga hati".

Menjaga hati, walaupun mudah untuk diucapkan tapi sulit juga untuk dilakukan. 
Tapi bukan berarti tidak mungkin untuk dilakukan. Setiap orang akan bisa jatuh cinta, dan itu fitrah. Tidak ada yang bisa menghindarinya. Kita hanya bisa mengendalikan.

Perbanyak doa agar Allah menjauhkan kita dari orang-orang yang php dan berdoa agar kita tidak menjadi orang-orang pelaku php. 
Dan berdoa juga semoga kita bisa segera dipertemukan dengan orang yang tepat dan di waktu yang tepat. Sekarang, tetaplah berbuat baik dan jangan salah mengartikan kebaikan orang lain :)




Postingan populer dari blog ini

Ekspektasi dan Realita