Dreamdelion : Kelas Untuk Mata Pelajaran “Ikhlas dan Totalitas”

“karena rasa memiliki itu yang membuat kita ikhlas dan totalitas”
                Kata-kata tersebut merupakan sebuah hasil perenungan malam kemarin. Aku tersadar bahwa ketika aku menghibahkan sedikit umurku kepada masyarakat, maka tidak boleh ada kata lelah dalam menjalaninya. Memang mustahil bila rasa lelah itu tidak muncul, namun solusinya adalah setiap kali rasa lelah itu muncul, maka aku harus berusaha membunuhnyanya. Senjataku adalah rasa memiliki, rasa memiliki dreamdelion. Rasa memiliki itulah yang bisa membunuh lelahku.

Alhamdulillah aku telah bisa merasakan efek dari rasa memiliki itu.

Salah satu kegiatanku yang baru di tahun 2013 ini adalah menjadi salah satu founder Dreamdelion Jogja. Kegiatan ini merupakan program pemberdayaan masyarakat yang memiliki visi untuk meningkatkan perekonomian ibu-ibu di desa Sumber arum, Moyudan, Yogyakarta. Pekerjaan ibu-ibu di sana adalah menenun. Aku di ajak oleh temanku untuk bergabung dalam kegiatan ini. Benar memang, apa yang dikatakan temanku. Aku ikut menyadari bahwa menenun merupakan salah satu budaya di Indonesia yang sangat potensial untuk dikembangkan. Kegiatan ini berorientasi pada ibu-ibu di desa sumber arum. Para ibu tersebut belajar menenun secara turun-temurun. Desa sumber Arum itu dikenal sebagai Desa tenun. Produk yang mereka hasilkan berupa tenun mendong dan stagen. Namun, seiring berjalannya waktu, gaung itu semakin kurang terdengar dan pasar untuk menjual tenun itu semakin mengecil.

Selama hampir 3 bulan, aku dan tim melakukan survei ke desa tersebut. Entah sudah berapa butir keringat yang berjatuhan, entah berapa ribu detik yang kami gunakan. Bulan lalu, aku sempat frustasi, karena tugas kampus dan organisasi yang menumpuk. Setiap hari selalu ada rapat-rapat dan rapat. Ditambah lagi saat aku harus ke desa, perjalanan ke desa tersebut membutuhkan waktu 2 jam pulang pergi. Saat itu aku merasa sangat lelah. Hingga akhirnya aku mengambil sebuah keputusan bodoh untuk keluar dari dreamdelion. Sebenarnya, itu merupakan suatu yang tidak cool, karena aku telah menghancurkan komitmen sendiri. Tapi aku merasa tidak totalitas berada di dreamdelion ini. Aku takut dengan kehadiranku malah akan menghambat semangat teman-temanku.
Pada suatu malam, aku mengutarakan niatku pada CEO dreamdelion Jogja bahwa aku ingin mengundurkan diri. Tanpa ada basa-basipun, dia menjawab iya. Aku sedikit sedih saat itu, karena aku merasa benarlah bahwa aku memang bukan bagian yang penting di sini. Beberapa hari setelahnya, aku pamit ke Founder dreamdelion Jakarta, Mbak Alia, beliau adalah presiden dreamdelion, sumber dari segala sumber berdirinya Dreamdelion. Namun, saat aku bilang akan keluar, beliau berkata “kita udah pernah ketemu, ngerajut mimpi bareng, jadi aku udah nganggap kamu sebagai keluarga, keluarga dreamdelion, bila kamu pergi maka kita akan merasa kehilangan satu anggota keluarga”. Nah, kata-kata itu yang sangat touching banget malam itu. Hingga akhirnya, akupun menjawab, “oke mbak, nisa akan coba untuk berubah, memperbaiki niat”.
Jadinya, aku mengurungkan niatku untuk keluar dari dreamdelion. Mungkin saat itu rasa kekeluargaan di dreamdelion jogja belum erat, tapi alhamdulilah CEO kami (mbak Fitri) selalu berusaha memberikan yang terbaik. Suatu malam, akhirnya kami bertujuh (Pelangi dreamdelion) bisa kumpul full tim, makan bareng, ketawa bareng dan merajut mimpi bareng lagi. Dan aku sadar, bahwa Allah tidak melihat hasil, tapi proses. Aku bertekad untuk menjalani proses ini dengan sebaik-baiknya.
Hari ini, 29 Desember 2013. Sedikit demi sedikit proses situ telah membuahkan hasil, walaupun masih setengah jalan. Berkat arahan dan permintaan kami, akhirnya ibu-ibu tersebut sudah mulai memproduksi kain tenun. Maka, sekarang tugas aku dan tim adalah membuat produk yang bisa meningkatkan nilai jual dari kain tenun itu. Aku bersyukur, karena setiap perjuangan itu tidak ada yang sia-sia.

Kalau hari-hari yang sebelumnya aku merasa sangat lelah bila pulang dari desa, maka saat ini, saat aku mulai menghadirkan rasa memiliki pada dreamdelion, entah kenapa tadi siang saat aku pergi ke desa serasa cepat sampai kesananya dan serasa lebih bahagia, seperti tidak ada beban. Nafas  Totalitas dalam berproses dan bekerja ikhlas karena Allah yang selalu dihembuskan yang mampu membunuh lelah itu.

Ini nih hasil kain tenunnya (stagen) :











Doakan ya, semoga kami bisa menyulab lembaran-lembaran kain ini agar bisa menghasilkan profit yang besar. Sehingga ibu-ibu di desa sumber arum bisa mandiri secara financial, pendidikan anak mereka lancar, dan akhirnya bisa membangun Indonesia jadi lebih baik.

Postingan populer dari blog ini

Ekspektasi dan Realita