Totally Mother, Outstanding Children

Sebuah rezeki yang datang dari Allah kepada para Srikandi, peserta PPSDMS R3 Putri, untuk berkunjung ke rumah Ibunda Septi, seorang ibu profesional  yang telah sukses melahirkan dan mendidik anaknya menjadi outstanding children. Ibu Septi ini merupakan role model yang sangat tepat bagi para srikandi. Karena apa? Karena di asrama sedang hangat topic tentang munakahat, imam kece, ibu hebat, dan anak shalih, shalihah. Nah, dari sini kami belajar how to be good wife and good mom.
Ibu Septi, merupakan seorang wanita yang telah berhasil mendidik anak-anaknya dirumah tanpa mengikuti sekolah formal namun anak-anak beliau sekarang menjadi anak yang sukses. Anak pertama, Enes sekarang kuliah di Singapore, di umur 18 tahun dia akan menjadi sarjana. Anak kedua, Ara, dia memiliki peternakan sapi dan sekarang sedang kuliah juga di Singapore. Anak terakhir, Elan, dia bercita-cita menjadi ahli robot. Saat ini Elan sedang membuat robot pengambil sampah dan dia ingin kuliah di Jerman. Tidak hanya itu, Ibu Septi ini merupakan Founder Jarimatika dan School of Life Lebah Putih.
Dalam tulisan ini, saya sedikit ingin berbagi cerita dan sedikit ilmu yang saya pahami terkait kunjungan saya dan teman-teman ke rumah Bu Septi. Mohon maaf sebelumnya bila jalan cerita yang saya tuliskan nantinya agak ribet atau bagaimana, karena saat ini saya sedang belajar menulis….:)


Ada beberapa hal yang bisa saya pelajari dari kunjungan ini,
1. Draw your dreams and make it life!
Hari Rabu, adalah hari dimana para ibu-ibu menghadiri kelas ibu profesional di rumah bu Septi. Kami sangat beruntung karena bisa bergabung di kelas beliau. Dalam pembukaan kelas beliau, pertama kali beliau menanyakan apakah kami punya mimpi, dan selanjutnya apa mimpi kami. Kata beliau, dulu beliau tidak memiliki mimpi. Beliau berkata bahwa  Orang yg tidak punya arah, yang tidak punya mimpi maka akan diarahkan mewujudkan mimpi orang lain. Dan hal tersebut terjadi pada beliau. Orang tua beliau memiliki seluruh anaknya menjadi PNS. Jadilah ibu Septi mengikuti mimpi orang tuanya. Namun, saat sebelum menikah, syarat dari calon suami beliau, pak Dodi, meminta beliau untuk menjadi ibu rumah tangga. Dan ibu Septipun menyetujui syarat tersebut dengan melepas SK pegawai negerinya.
Setelah menikah beliau, beliau mulai merajut mimpi. Mimpi beliau adalah menjadi ibu rumah tangga profesional. Beliau yakin bahwa dengan bekerja keras dan terus belajar maka kesuksesan akan menghampiri. Tidak mungkin kita mengejar mimpi tanpa ilmu, tapi tiba-tiba sukses. Kita trus berusaha, hasilnya serahkan pada Allah. Mimpi beliau ada 4 yaitu, Bunda sayang, Bunda shalihah, Bunda Produktif, dan Bunda cekatan.
Sebenarnya, kuncinya agar kita sukses di ranah public adalah ketika kita memiliki kekuatan domestic yang kokoh dulu. Artinya, urusan yang pertama kali harus diselesaikan adalah urusan di rumah. Bila beres, maka urusan di ranah publik pun akan ikut beres. Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam maka saat kamu berada diluar, kesungguhan itu akan menyertaimu. Kesungguhan itu pada 4 hal, yaitu Allah, Rasul, Ibu kita dan Ayah kita.
Mungkin sebagian orang, malu untuk bermimpi. Malu karena mimpinya ketinggian atau mungkin malu akan di ejek teman atau semacamnya. Padahal, mimpi itu gratis. Mimpi itu yang membangkitkan semangat kita untuk hidup. Ketika kita bermimpi, biarkan saja. Abaikan orang yang menertawakan, mengejek dan berkata tidak mungkin. Karena yang berhak menghapus mimpi kita hanyalah Allah semata. So, pegang mimpi itu dengan keyakinan, kesungguhan dan kerja keras.
 Fondasi kesuksesan itu adalah mimpi, so temukan siapa dirimu dan bangun mimpimu.
2. How to create your angel (child) to be outstanding person?
Amanah terbesar dari seorang ibu adalah anaknya. Jadi megurus anak merupakan hal yang paling utama untuk diselesaikan. Percuma kita memiliki amanah yang banyak diluar namun amanah yang utama yang telah diperintahkan oleh Allah untuk menjaganya malah terabaikan. Pada Usia anak dari 0-12 tahun merupakan periode golden age. Pada usia ini, seorang ibu harus serius membersamainya dan terus mendidiknya. Karena, dalam masa inilah dimana karakter seorang anak terbentuk dan mengendap. Apabila kita berhasil mendidiknya dengan baik pada masa ini, maka selanjutnya mereka sudah bisa mandiri dan memegang nilai-nilai yang telah mereka dapatkan. Sehingga, tugas kita untuk menjaganya tidaklah sulit.
Dalam mendidik anaknya, Bu Septi mendidik dengan mengajak anak-anaknya untuk bermimpi. Pada usia 0-8 tahun anak-anak dibebaskan untuk bermain dengan arahan dan ilmu dari orang tua. Sehingga mereka akan memiliki wawasan dan dengan wawasan yang mereka milikilah mereka menciptakan mimpi. Mimpi tersebut dituangkan dalam vision board dan sebaiknya saat anak membuat vision boardnya, orang tuapun ikut membuat itu. Setelah vision board itu selesai, ajaklah mereka untuk mendoakan mimpinya.
Ketika seorang anak bermimpi menjadi super hero, ucapkanlah mimpi itu keren. Jangan berkata bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang mustahil dan tidak nyata. Tanyakan pada anak, kenapa? Tentu jawabnya untuk menolong orang lain. Super hero merupakan imajinasi saja, maka saat anak ingin menolong, berikan dia kostum super heronya.  Sebaiknya, saat hendak tidur, ceritakanlah pada anak hal-hal yang terdapat dalam al-qur’an dan hadist. Jangan ceritakan tentang cinderrella atau sebagainya, karena hal ini akan membentuk mindset sang anak.
Selanjutnya pada usia 9 tahun sampai 16 tahun, biarkan anak tersebut menyelesaikan mimpinya, menyelesaikan projectnya. Pada masa ini, mimpi boleh berubah agar anak bisa mengetahui dimana passionnya. Namun, saat usia anak sudah mencapai 16 tahun ke atas, maka usahakan mimpi itu tidak berubah lagi agar dia fokus.
3. How to be a good Learner?
Seperti yang saya tulis tadi, untuk mewujudkan mimpi maka carilah ilmunya. Dimana sumber ilmu itu? Belajarlah dari sang ahli. Kalau di keluarga bu Septi. Beliau dan suaminya beserta anak-anaknya belajar dengan cara nyantrik yaitu dengan berkunjung ke rumah sang ahli, menyiapkan berbagai pertanyaan. Setelah mereka mendapatkan ilmu, mereka menyaring lagi, apa yang bisa diterapkan dan apa yang tidak. Mereka belajar dari banyak ahli sehingga ilmunya juga semakin banyak.

4. How to build a great family?
Berdasarkan cerita dari bu Septi dalam bagian ini, yang saya pahami adalah ketika seseorang memutuskan untuk berkeluarga, maka pilihlah pasangan yang tepat, yaitu yang se-visi dan berideologi sama. kalau kata bang Bachtiar waktu TPD, kurang lebih begini "laki-laki yang salah memilih istri adalah neraka, wanita yang salah memilih suami adalah neraka kuadrat". kenapa bisa begitu? menurut saya, karena seorang laki-laki adalah pemimpin sehingga baik atau tidaknya keluarga tergantung padanya. Dalam berkeluarga, bargaining power suami pastilah lebih kuat daripada istri. Bukan karena mengabaikan kesetaraan gender, tapi itu fitrah. lalu, kalau wanita, kenapa jadi neraka kuadrat? karena sudah menjadi fitrah wanita untuk mentaati suaminya. Jadi ketika dia ingin memenangkan visinya yang benar akan lebih sulit, butuh effort yang lebih berat.
Memang sih, visi setiap orang pasti berbeda, tidak mungkin sama 100%. Tapi ketika bertemu pada fase yang beda, maka kita akan mempergunakan waktu untuk menyamakan fase yang beda itu. Nah, bila dari awal terdapat kesamaan visi yang bayak, tentunya waktu yang dihabiskan untuk menyamakan visi yang beda tersebut akan jauh lebih singkat. Dan tentunya, waktu untuk actionpun menjadi lebih banyak.

Sebenarnya masih banyak lagi ilmu yang bisa di ambil, namun karena asam laktat semakin meningkat, jadi tulisan ini di cukupkan dulu yaa...


semoga bermanfaat….

Good night…..

Postingan populer dari blog ini

Ekspektasi dan Realita